Wali Kota Medan Dinobatkan Jadi Pelopor Budaya, Tari Inai Ritus Bangsawan Melayu Deli yang Hampir Punah Kembali Dipentaskan
23 September 2026MEDAN, TABAYYUN.ID – Bukan sekadar award, malam penghargaan Cagar Budaya dan Tokoh Kebudayaan Kota Medan 2026 jadi panggung hidupnya kembali tradisi yang hampir punah: Tari Inai Melayu Deli.
Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas dinobatkan sebagai Pelopor Kebudayaan Kota Medan dalam acara di Dharma Deli, Selasa (22/9/2026). Penghargaan lain diberikan kepada Wakil Wali Kota Zakiyuddin Harahap sebagai Tokoh Inspirasi Kebudayaan, Sultan Deli ke-14 sebagai Tokoh Penjaga Kebudayaan, Rudi Oi sebagai Pelestari, M. Muhar Omtatok sebagai Pegiat, dan Prof Ichwan Azhari sebagai Pemerhati Kebudayaan.
“Kadang-kadang orang lupa mencintai kalau tidak mengenal. Begitu kita mengenal, kita akan mau merawat dan mempromosikannya,” ujar Rico.
Malam itu, Sanggar Rumah Talur menampilkan Tari Inai Melayu Deli – tari klasik ritus malam berinai besar menjelang pernikahan bangsawan. Dibawakan penari bujang jumlah ganjil, bawa inai dan dian, pakai dulang pahar, gerak sembah delapan penjuru mata angin dan tujuh petala, diiringi gendang dua muka, serunai, bangsi, gong, dan lagu magis Senandong Dedeng.
Tradisi ratusan tahun yang diwariskan turun-temurun ini yang kini mulai jarang dikenal.
Rico meminta ini jangan berhenti jadi tontonan seremoni saja. Ia minta Kementerian Kebudayaan bantu replikasi alat musik ritus Melayu yang sudah langka agar bisa dipelajari generasi muda.
Medan Punya 126 Cagar Budaya, 3 Kelas Nasional
Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya Kementerian Kebudayaan I Made Darma Suteja mengungkap, Sumut punya 11 Cagar Budaya Peringkat Nasional, 3 di antaranya di Medan: Rumah Tjong A Fie, Masjid Raya Al-Mashun, dan Istana Maimun. Total Medan punya 126 cagar budaya dan 154 Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB).
“Ini harta yang diberikan leluhur kita. Tinggal kita menaikkan kekuatannya, mempromosikannya, dan memberikan kesempatan agar kebudayaan ini hidup lebih jauh lagi,” tegas Rico.
Pemko Medan, kata Rico, akan merevitalisasi Taman Budaya Medan sebagai ruang inkubasi seniman dan budayawan. Baginya, kuliner, pakaian tradisional, musik, tarian, adalah kekuatan diplomasi budaya Medan yang tidak dimiliki daerah lain – dari Melayu, Batak, Karo, Jawa, Minang, Aceh, India, Tionghoa.
“Saya ingin budayawan kita, seniman kita makin maju di Kota Medan,” pungkasnya. (Dik)

