Kisah Pilu Anak di Buleleng Bali Kehilangan Ayah Karena Kasus Ayam, DPR RI Jamin Sekolah Hingga Sarjana

Kisah Pilu Anak di Buleleng Bali Kehilangan Ayah Karena Kasus Ayam, DPR RI Jamin Sekolah Hingga Sarjana

30 Juli 2026 0 By admin tabayyun
Spread the love

TABAYYUN.ID – Kisah pilu anak-anak korban pengeroyokan di Desa Sidatapa, Buleleng, Bali menjadi sorotan publik. Ayah mereka meninggal dunia setelah diduga mencuri seekor ayam. Kini mereka harus hidup tanpa sosok ayah dan terancam putus sekolah.

Bukan hanya kehilangan, tapi juga trauma. Di usia yang masih butuh pelukan ayah, mereka harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ayahnya pergi dengan cara yang tragis.

Rumah yang dulu ramai, kini sunyi. Bangku sekolah yang dulu jadi tempat bermain, kini terasa berat untuk didatangi.

Rabu, 29 Juli 2026, Wakil Ketua DPR RI, Sari Yuliati datang langsung ke rumah duka di Buleleng bersama Anggota DPR RI Dapil Bali, Gde Sumarjaya Linggih.

Ia tidak datang sebagai pejabat, tapi sebagai seorang ibu.

Sari Yuliati memberikan 3 janji untuk masa depan anak-anak, seperti beasiswa hingga sarjana. Sari menjamin pendidikan anak korban sampai perguruan tinggi, agar mimpi mereka tidak putus.

Sari juga memberikan perlengkapan sekolah baru, berupa Buku dan alat tulis agar mereka berani kembali ke sekolah

Keluarga korban juga dapat bantuan untuk meringankan beban ibu yang kini menjadi tulang punggung.

“Anak-anak tidak boleh menjadi korban dari peristiwa yang tidak mereka lakukan. Mereka berhak untuk bermimpi dan meraih masa depan yang lebih baik,” ujar Sari Yuliati dengan mata berkaca.

Sari menilai, kehilangan ayah karena kekerasan bisa menimbulkan luka batin yang panjang. Jika tidak didampingi, anak bisa kehilangan rasa percaya diri dan cita-cita.

Pendidikan menjadi jembatan untuk menyembuhkan luka dan memutus rantai kesedihan.

Kasus ini menjadi pengingat untuk masyarakat, agar angan main hakim sendiri.

Seekor ayam mungkin bisa diganti, tapi nyawa manusia tidak. Dan di balik setiap amarah yang dilampiaskan, ada anak-anak yang harus menanggung kehilangan seumur hidup.

“Serahkan pada hukum. Jangan biarkan ada lagi anak yang kehilangan ayah karena amarah massa,” pungkas Sari. (Dik)