Kisah Adnan, Putra Kuli Bangunan Berhasil Raih Mimpi Jadi Perwira Polri
12 Juli 2026TABAYYUN.ID — Tangis haru pecah di Lapangan Bhayangkara, Akademi Kepolisian, Jumat (10/7/2026). Di tengah 282 Taruna Akpol Angkatan ke-58 yang dilantik, ada satu nama yang membuat banyak orang menahan napas: Adnan Kasweri.
Anak muda 22 tahun itu baru saja menyandang predikat Ati Trengginas — penghargaan untuk taruna dengan ketangguhan fisik dan mental terbaik. Dengan nilai jasmani 93,64, Adnan berdiri tegak menerima penghargaan dari Wakapolri Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo.
Tapi di balik seragam kebanggaannya, ada cerita seorang ayah bernama Sudaryo.
Setiap hari Sudaryo mengangkat semen, memecah batu, dan bekerja sebagai kuli bangunan di Bangka Belitung. Gajinya pas-pasan. Tapi dari tangannya itulah, mimpi Adnan ditempa.
“Saya ngikutin anak saya dari awal sampai akhir. Capek iya, tapi saya yakin. Rekrutmen Polri ini asli, murni. Tidak pakai orang dalam,” ujar Sudaryo dengan mata berkaca-kaca.
Dulu, Adnan sempat minder. Minder karena baju ayahnya penuh debu semen. Minder karena teman-temannya datang dengan mobil.
Tapi dua jenderal Polri mengubah itu. Saat seleksi 2023, Komjen Pol. Syahardiantono dan Komjen Pol. Dedi Prasetyo menepuk bahunya.
“Jangan pernah rendah diri karena profesi orang tuamu. Tunjukkan siapa kamu,” kata mereka.
Kalimat itu yang Adnan pegang. Hobinya main voli ia tunjukkan. Keringatnya ia buktikan. Dari seleksi di Polda Babel sampai SSDM Polri, ia lewati satu-satu.
“Pak, ini bukan karena saya hebat. Ini karena Bapak tidak pernah berhenti kerja, dan Polri kasih kami kesempatan yang sama,” bisik Adnan saat memeluk ayahnya usai upacara.
Kisah Adnan bukan tentang keberuntungan. Ini tentang seorang anak yang pantang menyerah. (Dik)


